![]() |
| Ilustrasi Dwi Nur Ekawati |
Peringatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan
nama tokoh, tempat kejadian, masalah agama. kehidupan sosial ataupun
ceita itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Categori: Bidan, Hamil, MILF, Perselingkuhan
Para Tokoh:
- Dwi Nur Ekawati
- Bidan
- IRT [Ibu Rumah Tangga]
- Istri Agus Rahrjo
- 35 Tahun
- Agus Raharjo
- Petani Sayuran
- Suami Dwi Nur Ekawati
- Ayah Aditya
- 45 Tahun
- Aditya
- Siswa Kelas 1 SMP
- Anak Agus Rahrjo dan Dwi Nur Ekawati
- Teman Wahyu
- 11 Tahun
- Sri Rahayu
- Pedagang
- IRT [Ibu Rumah Tangga]
- Mama Wahyu
- 37 Tahun
- Wahyu
- Siswa Kelas 1 SMP
- Anak Sri Rahayu
- Heru
- Tukang Kebun Puskesmas
- Penjaga Puskesmas
- Dukuh
- Kepala Desa
- 60 Tahun
Chapter 03
POV Dwi Nur Ekawati
Setelah kejadian sore itu aku kini telah berubah. Aku telah menjadi
milik Wahyu sepenuhnya. Setiap suamiku tidak di rumah Wahyu selalu
mengunjungiku. dengan berkedok bermain ke rumahku Wahyu selalu
meyetubuhiku. Dia selalu menumpahkan pejuhnya di dalam rahimku.
Adit
anakku pun tidak mau kalah dia ikut menggarapku tapi hanya sebatas oral
maupun titjob. Jika tidak di rumahku, kadang kami melakukannya di rumah Bu Sri. Dengan beralasan cek rutin kehamilan, aku mendatangi rumah Bu Sri untuk melakukan kunjungan kontrol kehamilan. Tapi kenyataannya di
dalam, kami melakukan pesta seks. Anak anak kami yang dalam masa
kematangan reproduksi siap menyetubuhi kami.
Aku dengan Wahyu dan Bu Sri
dengan Adit. Kami melakukan tukar anak dalam berhubungan seks. Kini Wahyu juga ikut ikutan mengetoti Bu Sri. Bahkan Wahyu juga menumpahkan
spermanya di dalam rahim ibunya sendiri. Tapi itu semua sudah bukan masalah
lagi karena Bu Sri kini sudah hamil 2 bulan hasil dari bibit anakku Adit. Aku senang sekali akan memiliki cucu begitu pula Wahyu yang kadang
ikut menyirami calon adiknya dengan lahar panasnya.
Tapi kini fokus kami ada padaku. kami berusaha agar aku segera hamil
oleh bibit dari Wahyu. Hampir setiap hari Wahyu bermain ke rumahku untuk
menabung pejuh dalam rahim, tidak peduli suamiku sedang dirumah atau
tidak kami terus melakukan persetubuhan.
Bahkan pernah dengan alasan
mengerjakan tugas bersama Adit sampai larut malam dan harus menginap di
rumahku. Padahal sepanjang malam Wahyu hanya menyetubuhi aku. Dia terus
menumpahkan spermanya pada rahimku yang sedang masa ovulasi.
Suamiku
yang besok harus berangkat pagi pagi tidur lebih awal dan memberi
kesempatan lebih luas bagi Wahyu untuk menjamahku. Akupun juga tidak
lupa berusaha agar suamiku selalu menumpahkan spermanya di dalam
vaginaku, meskipun setelah itu aku langsung membersihkannya. kini
rahimku eksklusif hanya untuk Wahyu. Satu satunya bibit yang dapat
membuahi sel telur dalam rahimku hanya milik Wahyu. Seperti halnya Bu Sri yang kini mengandung anak Adit, aku harus bisa hamil oleh bibit dari Wahyu.
Pada usia kehamilan 3 bulan Bu Sri, aku juga telat mendapat datang
bulan. Aku mencoba menggunakan test pack dan melakukan pemeriksaan pada
dirku sendiri. Aku yakin aku hamil dari bibit Wahyu karena semenjak
terkhir aku menstruasi, aku memastikan tidak ada sperma suamiku yang
masuk ke rahimku.
Aku memberitahu Wahyu dan Adit tentang kehamilanku. Kini fantasi mereka terwujud melihat Ibu Ibu mereka masing masing hamil oleh
anak teman mereka sendiri. Saat suamiku pulang aku pun memberitahunya
tentang kabar ini. Dia senang sekali akan mempunyai anak lagi. Padahal
dia tidak tahu bahwa anak yang ada dalam perut istrinya buka anaknya
sendiri melainkan anak dari teman sekolah Adit, putranya.
Dia berpesan
padaku untuk berhati hati. Bahkan dia berencana untuk tidak keluar kota
selama kau hamil muda untuk fokus menjagaku. Tapi aku menolak dengan
alasan bahwa ini bukan kehamilan pertama ku lagipula ada Adit yang
mejagaku. Padahal alasan sebenarnya agar aku lebih bebas berselingkuh
dengan Wahyu.
Kini Adit juga mulai berani mengentoti aku. Dia selalu ikut menyirami
calon adiknya dengan pejuhnya. pada suatu pagi, hari minggu, suamiku
harus berangkat kembali. setelah malam sebelumnya aku mengundang Bu Sri
dan Wahyu untuk datang ke rumah kami. Kami berencana akan
menyelenggarakan pesta atas kehamilan kami.
Tentunya ini bukan pesta
biasa. Belum ada 5 menit setelah kepergian suamiku dan posisi masih di
luar rumah, Adit mulai berani menggerayangiku. aku yang pagi itu memakai
daster batik dan jilbab putih lebar sedang digerayangi oleh anakku
sendiri di depan rumah kami.
Aditya : "Ibu selamat pagi"
Aditya : "Ibu selamat pagi"
Sapa Adit dari belakang dan langsung meremas remas susuku dari balik daster dan jilbab lebarku.
Aku : "Ahhhh hyyaaa,kamu bikin Ibu kaget saja ahhh"
Aku : "Ahhhh hyyaaa,kamu bikin Ibu kaget saja ahhh"
Adit tidak berhenti
meremas remas susuku seakan ingin memeras asi ku yang belum keluar
karena usia kehamilanku baru jalan 2 bulan.
Aditya : "Gimana enak Bu?"
Aditya : "Gimana enak Bu?"
Adit masih saja meremas buah dadaku kini bahkan pentilku ikut dipelintir dari luar.
Aku : "Jhanganhhh di diisini nhanti kelihatan orang"
Aku : "Jhanganhhh di diisini nhanti kelihatan orang"
Aku tak kuasa menahan serangan Adit pada kedua buah dadaku.
Posisi kami yang berada di halaman depan rumah memang rentan terlihat
orang. Tapi mengingat ini minggu pagi dan halaman rumah kami yang luas
membuat kecil kemungkinan ada orang yang melihat aktivitas kami. Meskipun resiko masih ada justru itulah yang semakin membuatku
terangsang dan semakin bersemangat.
Adit menarikku kebelakang. Dia duduk
di tangga depan rumah kami. Aku dituntun untuk duduk dipangkuannya.
sebelumnya dia sudah mengeluarkan kontolnya dari celana nya dan
mengangkat bagian belakang dasterku sampai kepangkal paha.
Aku yang
tidak memakai cd dan bh memudahkan Adit untuk melakukan penetrasi.
sedikit demi sedikit Aku mulai menduduki pangkuannnya dan seiring dengan
itu batang penis Adit semakin dalam masuk ke liang vaginaku. setelah
mendiamkan sebentar aku mulai menggerakkan menaik turunkan bokong ku.
Sensasinya sungguh berbeda, di pagi hari yang masih tenang sejuk khas
lereng gunung lawu, aku yang sedang hamil tengah di setubuhi oleh anakku
sendiri di halaman depan rumahku. Tangan Adit menggerayangi lagi buah
dadaku dan meremas sambil memelintir pentilku. Semenjak kehamilan ini
pentilku semakin sensitif pernah aku mengalami orgasme hanya karena adit
menarik narik putingku saat sedang menonton tv.
Aku : "Ahhhh shhhhs ahhh terus dit sodok terus"
Aditya : "Iya Buk ahhha ah shhh"
Sekarang Adit menarik tubuhku hingga menghadap kami saling berhadap hadapan dan menyambut bibir ku dengan ciumannya. Dia membelitkan lidahnya dengan lidahku. Kami saling bertukar air liur satu sama lain.
Aditya : "Iya Buk ahhha ah shhh"
Sekarang Adit menarik tubuhku hingga menghadap kami saling berhadap hadapan dan menyambut bibir ku dengan ciumannya. Dia membelitkan lidahnya dengan lidahku. Kami saling bertukar air liur satu sama lain.
Aku : "Ahhh Adit cmuchhhh"
"Nhmmm hannhhhhh" suara ciuman kami semakin keras.
Aku : "Ahhh telan Diiittt telan air liur Ibu"
Aditya : "Ahhhh rasanya enak sekali"
"Nhmmm hannhhhhh" suara ciuman kami semakin keras.
Aku : "Ahhh telan Diiittt telan air liur Ibu"
Aditya : "Ahhhh rasanya enak sekali"
Tangannya kini mulai melepas kancing depan dasterku. Tangan Adit
langsung masuk dan menarik puting payudara lagi. Aku menengok kekanan
dan kiri was was jika sewaktu waktu ada orang yang lewat di samping
rumah kami terlebih hari sudah mulai beranjak siang banyak warga yang
akan pergi merumput ke bukit belakang desa.
Aku : "Ahhh Dit udah Dit jangan"
Aku tak kuasa untuk menghentikan Adit mengeluarkan buah dadaku yang sudah tidak tertutup lagi dari lubang depan dasterku. Bahkan dia menyibakkkan bagian depan jilbabku sehingga buah dadaku terekspos sempurna. Aku semakin khawatir dengan hal ini.
Aku : "Sudah Dit ahhhhh" Aku berusaha menghentikannnya
Aditya : "Cuppppp smuuchhhh"
Aku : "Ahhh Dit udah Dit jangan"
Aku tak kuasa untuk menghentikan Adit mengeluarkan buah dadaku yang sudah tidak tertutup lagi dari lubang depan dasterku. Bahkan dia menyibakkkan bagian depan jilbabku sehingga buah dadaku terekspos sempurna. Aku semakin khawatir dengan hal ini.
Aku : "Sudah Dit ahhhhh" Aku berusaha menghentikannnya
Aditya : "Cuppppp smuuchhhh"
Hisapannnya pada pentil payudaraku semakin kuat.
Kini tubuhku sudah pasrah menerima sodokan dari bawah. Aku hanya diam
menikmati kelakuan Adit padaku. Dia kembali mempercepat sodokannnya
seiring tarikan pada puting payudaraku. Adit menggenjot semakin liar
seakan tidak peduli aku sedang hamil muda.
Tiba tiba ditengah
persenggamaan ku dengan Adit aku mendengar suara sepeda motor. Aku kaget
takut jika ada tamu dan bisa melihat kearah datangnya suara motor
karena posisi ku yang membelakanginya. Tapi seakan tidak peduli Adit
terus meneruskan genjotannnya.
"Wah pagi pagi udah enak enakan yaaa" suara wanita yang tidak asing bagiku.
Wahyu : "Pelan pelan Dit, anakku ada di dalam perut Ibumu lho"
Aditya : "Santai aja Yu, aku sudah memperhitungkannya kok"
"Wah pagi pagi udah enak enakan yaaa" suara wanita yang tidak asing bagiku.
Wahyu : "Pelan pelan Dit, anakku ada di dalam perut Ibumu lho"
Aditya : "Santai aja Yu, aku sudah memperhitungkannya kok"
Ternyata itu adalah Wahyu dan Ibunya Bu Sri. Aku lega ternyata bukan
orang lain yang datang. Mereka datang pagi mungkin sudah tidak sabar
memulai pesta kami. Tiba tiba Wahyu sudah berdiri di samping kiriku. Tangannya mengelus elus tonjolan di selangkangannya dari luar celana.
Aku yang melihat hal itu langsung menurunkan selana kolornya dan
langsung menghisap penis tegang itu. Aku mengulum nya dan menghisapnya. Sementara itu Bu Sri yang tadi hanya melihat sekarang ikut ikutan
jongkok dan menjilati batang penis dan buah zakar milik anaknya. Hampir
selama 10 menit kami dalam posisi seperti itu hingga akhirnya Adit
orgasme dan memuntahkan sperma nya dalam vaginaku dan disusul dengan
ledakan sperma Wahyu dalam mulutku.
Saking banyaknya sperma Wahyu tidak tertampung di mulutku dan menetes di
permukaan payudaraku. Bu Sri yang tidak mendapat jatah akhirnya
menjilati tetesan sperma di seluruh permukaan payudaraku. Seperti tidak
puas dia mencium mulutku yang masih penuh sperma untuk minta bagian. Kami berciuman mesra saling mengumpan cairan sperma bercampur air liur
langsung lewat mulut dan menelan masing masing separuh.
![]() |
| Ilustrasi Sri Wahyu |
POV Sri Wahyu
Setelah selesai aktivitas di depan rumah Bu bidan, kami langsung masuk
kedalam rumah. Tanpa canggung kami berempat langsung membuka seluruh
baju yang menutupi tubuh kami. Kecuali Bu bidan Dwi yang masih
mengenakan jilbabnya meskipun seluruh tubuhnya sudah tidak tertutupi
sehelai benangpun.
Aku melihat tonjolan kecil di perut bu bidan yang
menandakan adanya calon bayi sedang tumbuh didalamnya. Berbeda dengan
perutku yang sudah cukup besar memasuki bulan keempat kehamilanku, perut Bu Dwi tidak terlihat hamil jika masih memakai baju apalagi dengan baju
lengan panjang berpotongan longgar khas Bu Dwi sehari hari.
Selesai melepas pakaian Aku dan Bu Dwi saling meraba satu sama lain kami menelusuri lekuk tubuh kami masing masing. Bibir Bu Dwi memagut bibirku, kami kembali berciuman hot. Sedang anak anak kami terlihat sedang serius membicarakan sesuatu.
Aditya : "Yaudah ayo bantu aku kebelakang dulu"
Selesai melepas pakaian Aku dan Bu Dwi saling meraba satu sama lain kami menelusuri lekuk tubuh kami masing masing. Bibir Bu Dwi memagut bibirku, kami kembali berciuman hot. Sedang anak anak kami terlihat sedang serius membicarakan sesuatu.
Aditya : "Yaudah ayo bantu aku kebelakang dulu"
Adit mengajak Wahyu ke belakang. Mereka terlihat sudah merencanakan
sesuatu. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku terus menikamti ciumanku
dengan Bu Dwi. Bosan berciuman kami menghisap buah dada satu sama lain. Buah dadaku yang semakin membesar seiring kehamilanku tidak kalah besar
dari milik Bu Dwi yang kutaksir ber-cup c. Beberapa saat kemudian Adit
dan Wahyu kembali dari belakang. mereka membawa banyak barang, entah aku
tidak tahu apa yang mereka rencanakan.
Aditya : Sekarang Ibu pakai ini dulu"
Adit membawakan aku sebuah jilbab berwarna coklat. Yang kutebak adalah milik Bu Dwi karena ku sering melihat Bu Dwi memakainya. Rupanya dia punya fantasi lain juga terhadap wanita berjilbab. Apalagi yang lebar seperti yang dipakai Ibunya.
Aditya : Sekarang Ibu pakai ini dulu"
Adit membawakan aku sebuah jilbab berwarna coklat. Yang kutebak adalah milik Bu Dwi karena ku sering melihat Bu Dwi memakainya. Rupanya dia punya fantasi lain juga terhadap wanita berjilbab. Apalagi yang lebar seperti yang dipakai Ibunya.
Memang jilbab berfungsi untuk melindungi
wanita dari pandangan laki laki yang bukan muhrim, tapi bagi yang sudah
ekstrim level fantasinya jilbab lebar justru menambah kesan tersendiri. Kini Wahyu sudah menyiapkan barang barang yang tadi dia bawa. Dia
mengeluarkan dua buah pisau cukur dan kaleng kecil seukuran parfum
semprot.
Wahyu : "Sekarang Ibu Ibu duduk di kursi dulu. dan tolong pahanya di buka" perintah Wahyu singkat.
Kami segera mengikutinya. Lalu Wahyu kulihat mengocok ngocok kaleng tadi dan membuka tutupnya.
Dia mengarahkan semprotannya ke arah vaginaku. Ternyata itu adalah krim cukur. Satu persatu Adit dan Wahyu memegang
pisau cukur dan membersihkan bulu kemaluan milik ibu mereka. Setelah
selesai bersih mereka lalu mengambil jepit jemuran yang sudah mereka bawa
dari belakang tadi. Mereka memasangkannya masing masing pada pentil
kami.
Aku : "Ahhh duh sakittttt"
Aku : "Ahhhh shhhh"
Awalnya kami merasa kesakitan ketika pentil kami di jepit dengan jepit jemuran apalagi pentil kami yang sangat sensitif. Tapi lama kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat pada ujung pentil kami.
Aku : "Ahhh duh sakittttt"
Aku : "Ahhhh shhhh"
Awalnya kami merasa kesakitan ketika pentil kami di jepit dengan jepit jemuran apalagi pentil kami yang sangat sensitif. Tapi lama kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat pada ujung pentil kami.
Belum
cukup sampai disitu mereka mengambil timun yang berukuran cukup besar. Mereka merubah posisi menjadi posisi 69. Tanpa disuruh kami segera
mengulum penis mereka dan kurasakan benda bulat halus memasuki vaginaku. Ternyata mereka akan menggunakan timun itu untuk memuaskan kami.
Wahyu : "Gimana Bu enak?" tanya Wahyu padaku.
Aku : "Ihhya ennak" jawabku tak jelas karena penis Wahyu di mulutku.
Begitu juga dengan Adit dia terlihat bersemangat menghujam lubang mulut dan vagina milik ibunya masing dengan penisnya dan sebatang timun. Aku hanya bisa bertahan selama 10 menit sampai orgasme dan disusul Bu Dwi beberapa saat kemudian. Seharian kami memuaskan nafsu birahi kami Adit dan Wahyu bergantian meyetubuhi kami.
Aku : "Ihhya ennak" jawabku tak jelas karena penis Wahyu di mulutku.
Begitu juga dengan Adit dia terlihat bersemangat menghujam lubang mulut dan vagina milik ibunya masing dengan penisnya dan sebatang timun. Aku hanya bisa bertahan selama 10 menit sampai orgasme dan disusul Bu Dwi beberapa saat kemudian. Seharian kami memuaskan nafsu birahi kami Adit dan Wahyu bergantian meyetubuhi kami.
Mereka melakukan bermacam macam
hal mulai dari yang konvensional sampai sedikit bdsm dengan mengikat
buah dada kami. Mereka juga melakukan bukkake pada kami berdua. Mereka
menumpahkan sperma mereka di tubuh dan wajah kami saat aku dan Bu Dwi
sedang berpelukan.
Kami hanya berhenti untuk istirahat dan makan. Bahkan untuk makan Adit dan Wahyu menggunakan tubuh kami sebagai alas makan. Mereka meletakkan nasi dan lauk diatas tubuh kami dan menyantapnya bersama. Kami makan dengan disuapi oleh anak kami masing masing tidak dengan tangan melainkan langsung dari mulut ke mulut.
Kami hanya berhenti untuk istirahat dan makan. Bahkan untuk makan Adit dan Wahyu menggunakan tubuh kami sebagai alas makan. Mereka meletakkan nasi dan lauk diatas tubuh kami dan menyantapnya bersama. Kami makan dengan disuapi oleh anak kami masing masing tidak dengan tangan melainkan langsung dari mulut ke mulut.
Entah berapa kali kami mengalami
orgasme seharian ini. Sudah tak terhitung jumlah sperma yang
ditumpahkan anak kami berdua. Sampai sampai ruang tamu rumah Bu Dwi
dipenuhi bau keringat bercampur bau anyir cairan kelamin kami semua.
![]() |
| Ilustrasi Dwi Nur Ekawati |
POV Dwi Nur Ekawati
Akibat kehamilanku, terjadi perubahan hormonal dalam diriku. buah dadaku
semakin membesar seiring usia kehamilanku yang masuk bulan ketiga. Buah
dadaku yang sebelumnya sudah berukuran cukup besar kini sudah semakin
tidak tertampung oleh bh bh milikku.
Rasanya begitu tersiksa memakai bh
yang rasanya tiap hari terasa semakin kecil sampai sampai rasanya buah
dadaku ingin meloncat keluar. Begitu juga dengan pakaianku. Tubuhku yang
semakin membesar terutama bagian bokongku membuat baju kerja yang
kupakai seperti tidak berguna menutupi lekuk tubuhku. Meskipun aku
berjilbab tapi pakaianku yang kupakai menempel ketat pada tubuhku. Teman
teman sejawatku memaklumi nya, mereka mengerti keadaanku.
Sebenarnya
aku pun juga sudah memesan baju hamil untuk bekerja sehari hari. Tapi
karena lamanya proses pembuatan dan banyaknya garapan penjahit memaksa
aku memakai baju kerja lamaku meskipun terasa semakin menyiksa.
Belum
lagi pandangan mesum dari laki laki di puskesmas. Jika sebelumnya saja
aku sudah menjadi bahan fantasi laki laki disekitarku apalagi saat ini
aku sedang hamil. Tubuhku yang menonjol kesana kesini pasti semakin
membuat penis rekan rekan laki laki semakin keras. Terutama Pak Heru
tukang kebun merangkap penjaga puskesmas. Sebenarnya aku dalam hati aku
merasa bangga, di usiaku yang hampir 37 tahun dan dalam keadaan hamil
masih bisa memancing gairah laki laki di sekitarku.
Tetapi berbeda ceritanya jika aku di rumah. Masalah baju dan pakaian
dalamku yang kekecilan sudah tidak ada lagi. Karena semenjak awal
hubungan gelapku. Nyaris aku tidak pernah memakai baju. Aku hanya
memakai selembar kain batik yang kuikatkan diatas dadaku. Itu semua
kulakukan agar Wahyu dan Adit leluasa menyetubuhi aku. Tapi itu semua
dengan syarat suamiku sedang tidak di rumah dan tidak ada orang lain di
rumah.
Selain itu aku berpakaian biasa layaknya aku sehari hari. Ketika
aku keluar rumah aku selalu memakai baju panajng dan jilbab, meskipun
kadang kadang aku nakal dengan tidak memakai pakaian dalam didalamnya. Sering aku berpakaian seperti itu saat berbelanja kebutuhan di warung,
saat membayar tagihan listrik maupun saat menemui tamu dirumahku. Aku
sadar banyak laki laki yang nafsu padaku tapi tidak kupikirkan karena
mereka tidak berani berbuat lebih jauh dan aku juga menikmati perhatian
mereka padaku.
Pernah di suatu pagi hari saat aku dan adit sedang asyik bersenggama.
Aku : "Ahhhha ahhhha"
Aku : "Shhhhh ehhmmmm"
"Tok tok tok" terdengar suara ketokan pintu
Aku : "Sebhnenthar Dhit ssseppertinyha ah hhda ta mu"
Aku segera menyudahi persetubuhanku dengan Adit. Aku mengintip dari balik gorden jendela ternyata Pak Dukuh datang ke rumahku.
Aku : "Iyyya sebentar" teriakku dari dalam.
Aku segera berlari ke kamar untuk ganti baju. Aku mengambil baju kurung biru langit yang tergantung di belakang pintu kamarku. Tapi tiba tiba tangan Adit menarik baju yang akan kupakai. Aku bingung kenapa Adit ini.
Aditya : "Ibuk jangan pakai baju ini"
Aku : "Kamu gila yaa masak Ibu menemui tamu dalam keadaan telanjang."
Aku : "Bisa bisa Ibu diperkosa nanti"
Aditya : "Maksudnya jangan pakai baju tapi pakai ini saja"
Adit meyerahkan sebuah mukena terusan yang biasa kupakai. Aku bingung.
Aku : "Maksudmu Ibu harus menemui tamu hanya pake mukena"
Aditya : "Iya, nggak apa apa"
Aku : "Nggak mau ahhh, sudah sini mana baju ibu"
Aditya : "Pokoknya nggak boleh, udah cepetan dipakai Bu, kasian tamunya nungguin tuh"
Akhirnya aku terpaksa memakai mukena itu. aku sempat bercermin sebentar memperhatikan bayangan tubuhku. Sekilas memang tidak ada yang aneh. Tapi jika dilihat dengan seksama orang yang melihat pasti tahu kalau aku tidak memakai apa apa lagi dibalik mukena yang kupakai. Segera setelah itu aku berjalan kedepan dan membuka pintu.
Aku : "Eh ada Pak Dukuh silakan masuk"
Pak Dukuh : "Terimakasih kasih Bu, maaf mengganggu"
Pak Dukuh masuk mengikuti ku dari belakang.
Aku : "Silakan duduk. maaf sebelumnya ada keperluan apa nggih bapak Dukuh?"
Tapi Pak Dukuh hanya diam tatapannya kosong terpaku pada tubuhku. Aku yakin Pak Dukuh pasti tahu aku tidak memakai apa apalagi dibalik mukena yang kupakai. Apalagi bahan mukena itu adalah katun putih halus yang tidak terlalu tebal.
Aku : "Pak Dukuhh" Aku kembali memnggil tamuku itu.
Pak Dukuh : "Ehhh iya ya. maaf nggak konsen Bu."
Pak Dukuh : "Ini saya mau menyampaikan tagihan pbb tahun ini."
Pak Dukuh : "Maklum perintah dari pemerintah untuk menggenjot pendapatan daerah masing masing"
Jelas Pak Dukuh tanpa melepaskan tatapannya dari tubuhku.
Aku : "Oh sudah hampir jatuh tempo ya Pak? kalau boleh tahu berapa jumlahnya ya Pak?"
Setelah membolak balik faktur pajak yang ada di tangannya dia menyebutkan
Pak Dukuh : "Dua ratus tiga puluh tiga ribu enam ratus tujuh puluh lima, itu terdiri dari pajak rumah"
Pak Dukuh : "Dan tanah yang Ibu tempati ini ditambah ladang yang ada dipinggir kampung."
Pak Dukuh : "Mau dibayar lewat saya atau bayar sendiri?"
Aku : "Lewat bapak saja, sebentar saya ambilkan uangnya dulu"
Kemudian kau beranjak dari tempat duduk menuju kamarku. untuk mengambil uang. Aku membawa uang pas sejumlah 235 ribu. Aku segera kembali kedepan setelah dikamar tadi sempat terhambat oleh remasan nakal Adit pada kedua payudaraku.
Aku : "Ini Pak uangnya, sisanya di bawa saja"
Pak Dukuh : "Oiya terima kasih Bu, ngomong ngomong Pak Agus tidak di rumah ya"
Aku kaget menedengar perkataan pak dukuh. dia menanayakan keberadaan suamiku. Aku takut Pak Dukuh nekat memperkosa aku. Apalagi dari tadi dia terus menatap bagian dada mukenaku yang sekarang kusut akibat remasan Adit tadi. Aku kesal karena kecerobohan Adit kini aku terancam diperkosa lelaki yang kutaksir berusia hampir 60 tahun ini
Pak Dukuh : "Ehh iya, bapaknya lagi ke semarang, nganter pesanan melon"
Mendengar jawabanku Pak Dukuh sepertinya memikirkan sesuatu. Aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Dan aku juga tidak terlalu takut karena ada Adit di rumah.
Pak Dukuh : "Oh begitu, ya sudah saya permisi dulu"
Pak Dukuh segera pamit pulang. Sepertinya dia urung menjalankan niatnya. Entah apa alasannya tapi yang jelas dia sudah menahan nafsu karena kulihat ketika berjalan menyusuri halaman depan rumahku, berkali kai dia membetulkan posisi burungnya di dalam celana.
Aku hanya bisa tersenyum dalam hati. Belum sempat aku menutup pintu, tubuhku sudah ditarik kearah tembok. Ternyata Adit sudah tidak sabar menyelesaikan persetubuhan kami yang tertunda karena kedatangan Pak Dukuh tadi.
Tanpa berlama lama aku yang masih mukena di dorong menyandarkan punggungku pada tembok. Adit lalu menyibakkan bagian bawah mukena ku dan segera memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.
Aku : "Ahhh pelan pelan Dit"
Aditya : "Ahhhhh Adit semakin nafsu lihat Ibu pake mukena ini"
Aku : "Ohh yaa kamu suka Dit"
Aditya : "Ohh iya Bu Adit suka sekali. Adit semakin nafsu ngentot Ibu"
Aku : "Ya sudah ayo Dit terus genjot Ibumu ini"
Aditya : "Ahhhh Adit mau keluar Bu, Adit mau nyampe"
Dia melepaskan penisnya dari vaginaku. Lalu menyuruhku jongkok di depannya.
Aditya : "Sekarang Ibu jongkok,aaahhh aaahhsh. terima pejuh Adit Bu"
Adit mengarahkan penisnya ke wajahku sambil terus dikock dengan tangan kirinya. Tidak lama kemudian Adit mengerang dan penisnya memuntahkan pejuhnya ke muka ku.
Croott croott croott
Banyak sekali pejuhnya sampai sampai banyak yang mengenai mukena yang sedang kupakai ini.
Aditya : "Ahhhh ahhhhha bersihin Bu"
Segera aku mengulum penis Adit dan membersihkan sisa sperma yang ada sampai bersih.
Aku : "Gimana enak Dit?"
Aditya : "Enak bu kapan kapan lagi ya" jawab Adit
Aku : "Gampang kalau itu, ohhiyyya Dit besok hari minggu anterin Ibu ke kota s ya?
Aku : "Kamu nggak ada acara kan besok?"
Aditya : "Ohiya pasti Adit mau dong nganterin Ibu yang cantik. tapi ngapain Bu?"
Aku : "Ah kamu ini pinter gombal."
Aku : "Rencananya besok Ibu mau beli baju hamil dan pakaian dalam baru."
Aku : "Soalnya pakaian Ibu sudah kekecilan semua"
Aditya : "Ngapain beli baru mending gak usah pake baju Bu?"
Aku : "Ihhh maunya kamu tuh ya,"
Aku : "Memangnya kamu mau Ibu berangkat kerja nggak pake baju trus kalo Ibu diperkosa gimana?
Aku : "Kamu mau?"
Aditya : "Yah jangan dong"
Aku : "Makanya kalo gitu besok mau kan nganter Ibu?"
Aditya : "Siap Boss"
Aku : "Shhhhh ehhmmmm"
"Tok tok tok" terdengar suara ketokan pintu
Aku : "Sebhnenthar Dhit ssseppertinyha ah hhda ta mu"
Aku segera menyudahi persetubuhanku dengan Adit. Aku mengintip dari balik gorden jendela ternyata Pak Dukuh datang ke rumahku.
Aku : "Iyyya sebentar" teriakku dari dalam.
Aku segera berlari ke kamar untuk ganti baju. Aku mengambil baju kurung biru langit yang tergantung di belakang pintu kamarku. Tapi tiba tiba tangan Adit menarik baju yang akan kupakai. Aku bingung kenapa Adit ini.
Aditya : "Ibuk jangan pakai baju ini"
Aku : "Kamu gila yaa masak Ibu menemui tamu dalam keadaan telanjang."
Aku : "Bisa bisa Ibu diperkosa nanti"
Aditya : "Maksudnya jangan pakai baju tapi pakai ini saja"
Adit meyerahkan sebuah mukena terusan yang biasa kupakai. Aku bingung.
Aku : "Maksudmu Ibu harus menemui tamu hanya pake mukena"
Aditya : "Iya, nggak apa apa"
Aku : "Nggak mau ahhh, sudah sini mana baju ibu"
Aditya : "Pokoknya nggak boleh, udah cepetan dipakai Bu, kasian tamunya nungguin tuh"
Akhirnya aku terpaksa memakai mukena itu. aku sempat bercermin sebentar memperhatikan bayangan tubuhku. Sekilas memang tidak ada yang aneh. Tapi jika dilihat dengan seksama orang yang melihat pasti tahu kalau aku tidak memakai apa apa lagi dibalik mukena yang kupakai. Segera setelah itu aku berjalan kedepan dan membuka pintu.
Aku : "Eh ada Pak Dukuh silakan masuk"
Pak Dukuh : "Terimakasih kasih Bu, maaf mengganggu"
Pak Dukuh masuk mengikuti ku dari belakang.
Aku : "Silakan duduk. maaf sebelumnya ada keperluan apa nggih bapak Dukuh?"
Tapi Pak Dukuh hanya diam tatapannya kosong terpaku pada tubuhku. Aku yakin Pak Dukuh pasti tahu aku tidak memakai apa apalagi dibalik mukena yang kupakai. Apalagi bahan mukena itu adalah katun putih halus yang tidak terlalu tebal.
Aku : "Pak Dukuhh" Aku kembali memnggil tamuku itu.
Pak Dukuh : "Ehhh iya ya. maaf nggak konsen Bu."
Pak Dukuh : "Ini saya mau menyampaikan tagihan pbb tahun ini."
Pak Dukuh : "Maklum perintah dari pemerintah untuk menggenjot pendapatan daerah masing masing"
Jelas Pak Dukuh tanpa melepaskan tatapannya dari tubuhku.
Aku : "Oh sudah hampir jatuh tempo ya Pak? kalau boleh tahu berapa jumlahnya ya Pak?"
Setelah membolak balik faktur pajak yang ada di tangannya dia menyebutkan
Pak Dukuh : "Dua ratus tiga puluh tiga ribu enam ratus tujuh puluh lima, itu terdiri dari pajak rumah"
Pak Dukuh : "Dan tanah yang Ibu tempati ini ditambah ladang yang ada dipinggir kampung."
Pak Dukuh : "Mau dibayar lewat saya atau bayar sendiri?"
Aku : "Lewat bapak saja, sebentar saya ambilkan uangnya dulu"
Kemudian kau beranjak dari tempat duduk menuju kamarku. untuk mengambil uang. Aku membawa uang pas sejumlah 235 ribu. Aku segera kembali kedepan setelah dikamar tadi sempat terhambat oleh remasan nakal Adit pada kedua payudaraku.
Aku : "Ini Pak uangnya, sisanya di bawa saja"
Pak Dukuh : "Oiya terima kasih Bu, ngomong ngomong Pak Agus tidak di rumah ya"
Aku kaget menedengar perkataan pak dukuh. dia menanayakan keberadaan suamiku. Aku takut Pak Dukuh nekat memperkosa aku. Apalagi dari tadi dia terus menatap bagian dada mukenaku yang sekarang kusut akibat remasan Adit tadi. Aku kesal karena kecerobohan Adit kini aku terancam diperkosa lelaki yang kutaksir berusia hampir 60 tahun ini
Pak Dukuh : "Ehh iya, bapaknya lagi ke semarang, nganter pesanan melon"
Mendengar jawabanku Pak Dukuh sepertinya memikirkan sesuatu. Aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Dan aku juga tidak terlalu takut karena ada Adit di rumah.
Pak Dukuh : "Oh begitu, ya sudah saya permisi dulu"
Pak Dukuh segera pamit pulang. Sepertinya dia urung menjalankan niatnya. Entah apa alasannya tapi yang jelas dia sudah menahan nafsu karena kulihat ketika berjalan menyusuri halaman depan rumahku, berkali kai dia membetulkan posisi burungnya di dalam celana.
Aku hanya bisa tersenyum dalam hati. Belum sempat aku menutup pintu, tubuhku sudah ditarik kearah tembok. Ternyata Adit sudah tidak sabar menyelesaikan persetubuhan kami yang tertunda karena kedatangan Pak Dukuh tadi.
Tanpa berlama lama aku yang masih mukena di dorong menyandarkan punggungku pada tembok. Adit lalu menyibakkan bagian bawah mukena ku dan segera memasukkan penisnya ke dalam vaginaku.
Aku : "Ahhh pelan pelan Dit"
Aditya : "Ahhhhh Adit semakin nafsu lihat Ibu pake mukena ini"
Aku : "Ohh yaa kamu suka Dit"
Aditya : "Ohh iya Bu Adit suka sekali. Adit semakin nafsu ngentot Ibu"
Aku : "Ya sudah ayo Dit terus genjot Ibumu ini"
Aditya : "Ahhhh Adit mau keluar Bu, Adit mau nyampe"
Dia melepaskan penisnya dari vaginaku. Lalu menyuruhku jongkok di depannya.
Aditya : "Sekarang Ibu jongkok,aaahhh aaahhsh. terima pejuh Adit Bu"
Adit mengarahkan penisnya ke wajahku sambil terus dikock dengan tangan kirinya. Tidak lama kemudian Adit mengerang dan penisnya memuntahkan pejuhnya ke muka ku.
Croott croott croott
Banyak sekali pejuhnya sampai sampai banyak yang mengenai mukena yang sedang kupakai ini.
Aditya : "Ahhhh ahhhhha bersihin Bu"
Segera aku mengulum penis Adit dan membersihkan sisa sperma yang ada sampai bersih.
Aku : "Gimana enak Dit?"
Aditya : "Enak bu kapan kapan lagi ya" jawab Adit
Aku : "Gampang kalau itu, ohhiyyya Dit besok hari minggu anterin Ibu ke kota s ya?
Aku : "Kamu nggak ada acara kan besok?"
Aditya : "Ohiya pasti Adit mau dong nganterin Ibu yang cantik. tapi ngapain Bu?"
Aku : "Ah kamu ini pinter gombal."
Aku : "Rencananya besok Ibu mau beli baju hamil dan pakaian dalam baru."
Aku : "Soalnya pakaian Ibu sudah kekecilan semua"
Aditya : "Ngapain beli baru mending gak usah pake baju Bu?"
Aku : "Ihhh maunya kamu tuh ya,"
Aku : "Memangnya kamu mau Ibu berangkat kerja nggak pake baju trus kalo Ibu diperkosa gimana?
Aku : "Kamu mau?"
Aditya : "Yah jangan dong"
Aku : "Makanya kalo gitu besok mau kan nganter Ibu?"
Aditya : "Siap Boss"
(Bersambung...)
Sumber:
Semprot by haryhidayat9
Semprot by haryhidayat9



0 komentar:
Posting Komentar