![]() |
| Sri Rahayu |
Peringatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan
nama tokoh, tempat kejadian, masalah agama. kehidupan sosial ataupun
ceita itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Categori: Hamil, Pemerkosaan, Perselingkuhan
Para Tokoh:
- Dwi Nur Ekawati
- Bidan
- IRT [Ibu Rumah Tangga]
- Istri Agus Rahrjo
- 35 Tahun
- Agus Raharjo
- Petani Sayuran
- Suami Dwi Nur Ekawati
- Ayah Aditya
- 45 Tahun
- Aditya
- Siswa Kelas 1 SMP
- Anak Agus Rahrjo dan Dwi Nur Ekawati
- Teman Wahyu
- 11 Tahun
- Sri Rahayu
- Pedagang
- IRT [Ibu Rumah Tangga]
- Mama Wahyu
- Wahyu
- Siswa Kelas 1 SMP
- Anak Sri Rahyu
- Teman Aditya
Chapter 02
POV SRI WAHYU
Aku : "Ahhh ahhh terus Adit sayang sodok terus" Aku terus memberi semangat pada Adit.
Anak lelaki teman anakku ini kini sudah seperti suamiku sendiri. Hampir setiap hari anak ini menyetubuhi aku dan menumpahkan lahar panasnya dalam rahimku. tidak heran saat ini bentuk perut ku sudah membesar akibat benih yang ditanam Adit dalam rahimku. Aku tidak pernah menyangka akhirnya akan menjadi seperti ini. Aku yang seorang ibu sekaligus istri bisa hamil oleh penis milik teman anakku sendiri.
Semua ini berawal dari
kejadian pada sore itu. Waktu itu aku baru saja pulang dari pasar
setelah berjualan seharian. karena merasa lelah dan mengantuk aku
mencoba merebahkan diri sebentar. mungkin karena sudah sangat mengantuk
akhirnya aku tertidur selama beberapa jam.
Aku terbangun ketika jam
dindingku menunjukkan pukul 3.30 sore. Aku langsung berjalan ke kamar
mandi karena sepulang dari pasar aku belum sempat membersihkan diri. Baru saja akan membuka pintu kamar mandi aku melihat bayangan orang
sedang dalam kamar mandi.
Aku mencoba mengintip dari celah pintu yang
tidak tertutup sempurna. Aku terkejut melihat ada sosok Adit teman
anakku Wahyu sedang mengocok penisnya. Dia menggunakan bh berenda berwarna krem untuk membungkus
penis coklat besar miliknya. Aku sadar bh yang dia pakai untuk mengocok
penisnya adalah bh kotor milikku yang belum sempat aku cuci.
Aditya : "Ahhh Bu Sri tetek mu besar sekali"
Aditya : "Ahhh ahhha. jepit tititku Bu Sri ahhh ahhh" Adit meracau keenakan.
Aku : "Gila anak ini berani membayangkan teman Ibunya sebagai bahan masturbasi" batinku.
Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut dengan fakta Adit menjadikanku
bahan masturbasi. Aku yang sudah berumur 37 tahun ini masih dikaruniai
dengan tubuh yang menggoda setiap mata lelaki. bagaimana tidak dengan
dada membusung berukuran 36b dipadu dengan bokong sintal nan menggoda
selalu menarik perhatian lelaki disekitarku.
Meskipun setiap hari selama
berjualan di pasar aku memakai pakaian yang relatif sopan ternyata
tidak mencegah pandangan mesum dari rekan pedagang maupun pengunjung
warungku di pasar. Meskipun hanya sebatas memelototi lekuk tubuhku
karena mereka tahu aku sudah bersuami dan mempunyai seorang anak.
Jangankan berselingkuh memikirkan untuk melakukan hal itu pun aku tidak
pernah. Tapi semuanya berubah beberapa minggu yang lalu, suamiku harus
berangkat ke ibukota untuk bekerja. dia mendapat panggilan untuk
mengerjakan proyek di sana.
Aku yang dulu selalu rutin mendapat jatah
dari suamiku praktis kini tidak bisa melakukan apa apa. Aku hanya bisa
menahan birahi yang semakin menumpuk setiap hari dan menunggu kepulangan
suamiku. Sebelum berangkat suamiku berjanji akan berusaha pulang
setidaknya sebulan sekali itupun jika target setiap periode pembangunan
dapat dicapai tepat waktu. Jika tidak maka aku hanya semakin tersiksa
menunggu kepulangan suamiku nanti yang belum jelas kapan.
Hingga Akhirnya aku disuguhi pemandangan ini. Pemandangan penis besar
milik teman anakku yang sudah tegang sempurna terbungkus oleh bh
milikku. Aku yang sudah tidak merasakan kehangatan penis lelaki serasa
tersihir untuk menikmatinya. tapi belum sempat aku menjalankan niatku,
akal sehatku muncul kembali. Aku harus menghentikan ini. semuanya tidak
benar.
Aku : "Adit, kamu ngapain?" kataku mengaggetkan Adit.
Aditya : "Ehh ehmmm aduh" Adit yang sedang fokus mengocok penisnya kaget
Adit kini sudah menghentikan kocokan pada penisnya. Bh yang tadi membungkus penisnya kini sudah terjatuh di lantai kamar mandi. Tapi penisnya masih tegang mengacung tegak di selangkangannya. Dia berusaha menutupinya dengan celananya tapi sia sia karena tonjolan di celana kolor bola miliknya masih terlihat.
Aditya : "Ehh ehmmm aduh" Adit yang sedang fokus mengocok penisnya kaget
Adit kini sudah menghentikan kocokan pada penisnya. Bh yang tadi membungkus penisnya kini sudah terjatuh di lantai kamar mandi. Tapi penisnya masih tegang mengacung tegak di selangkangannya. Dia berusaha menutupinya dengan celananya tapi sia sia karena tonjolan di celana kolor bola miliknya masih terlihat.
Aku : "Apa yang kamu lakukan?"
Aditya : "Maaf Bu, Adit minta maaf"
Aku : "Kamu tadi sedang apa? kamu mau Ibu laporkan ke orang tua kamu?"
Aditya : "Maaf Bu jangan, tolong jangan laporkan ke orang tua saya."
Aditya : "Maaf Bu, Adit minta maaf"
Aku : "Kamu tadi sedang apa? kamu mau Ibu laporkan ke orang tua kamu?"
Aditya : "Maaf Bu jangan, tolong jangan laporkan ke orang tua saya."
Aku : "Sudah sering kamu ngocok memakai bh milik Ibu"
" . . ." tidak ada jawaban. Adit hanya tertunduk.
Aku : "Jawab Ibu atau Ibu laporkan semua ini"
Aditya : "I iyya bu sudah sering" jawab Adit.
Aditya : "Adit sudah sering ngocok pakai bh Ibu dan menumpahkan pejuhnya di bh Ibu"
Aku terkejut mendengar pengakuan Adit. Ternyata dia sudah sering melakukan hal ini saat sedang bermain di rumahku. pantas saja aku selalu menemukan noda putih pada cup bh ku saat akan mencuci pakaian dalam ku.
Aditya : "Tolong Bu tolong jangan dilaporkan"
Mendengar ketakutan Adit aku justru mendapat ide.
Aku : "Baiklah tidak akan Ibu laporkan. tapi ada syaratnya?"
Aditya : "Baiklah Bu. apapun syaratnya"
Aku : "Sekarang buka celana kamu"
Aditya : "Tapi Bu . . " Adit telihat terkejut
Aku : "Ayo cepat atau akan Ibu laporkan" potongku segera.
Adit segera memelorotkan celananya sampai ke lututnya. penisnya masih sangat tegang berwarna coklat kemerah merahan. pembuluh darah di penisnya menonjol dikeliling batang penisnya.
Aku segera berjongkok di depan Adit. Posisi kepalaku tepat di depan batang penis Adit. Kuraih penis itu dengan tangan kananku. Aku mulai mengocok lembut penis Adit. dia hanya bisa terpejam menikamti kocokan tanganku pada batang penisnya.
Aditya : "Ahha hah ahh ahh" erang Adit.
Aku : "Enak dit kocokan Ibu?" tanyaku.
Aditya : "Ehnnak bhuk ahhha ahhh" suaranya bergetar akibat kocokanku.
Aku : "Lebih enak mana dari ngocok sendiri?"
Aditya : "Eee ee enak dikocokin Ibu" dia menjawab pertanyaanku dengan malu malu
Aku : "Sekarang Ibu bikin lebih enak"
Aku segera mendekatkan kepalaku ke batang penis Adit. kujulurkan lidahku dan menjilati setiap permukaan penis Adit. tidak kelewatan kepala penis dan buah zakarnya yang sedang matang matangnya. kadang aku menghisapi kepala penis dan buah zakarnya dengan lembut.
Dia semakin keenakan samapai sampai tidak kuat berdiri tegak dan menyandarkan tangannya pada dinding bak mandi. puas menjilati kini aku mulai memasukkan batang penisnya kedalam mulutku. Senti demi senti batang itu masuk sampai tertelan sepenuhnya dalam mulutku.
Aditya : "Ahhh aduhhhh ehnaak Bu"
Aku mulai melakukan blowjob.
Aku memaju mundurkan kepalaku sambil menghisapi penisnya. gerakan penis dalam mulutku seperti piston dalam mesin yang semakin lama bergerak semakin cepat. tangan Adit kini sudah memegangi kepalaku. Sepertinya dia sudah tidak malu malu lagi. Tangannya mencengkeram rambutku dan memaju mundurkan kepalaku. hisapan ku semakin lama semakin kuperkuat. Gerakan blowjob ku semakin tidak beraturan. kami melakukannya hampir selam 10 menit hingga akhirnya.
Aditya : "Ahhhditt kehluar Bukkkk"
Tangan Adit menarik kepalaku mendekati selangkangannya. penisnya semakin terdorong samapi ke tenggorokan ku. bersamaan dengan itu tubuh Adit menegang dan aku merasakan pancaran cairan kental dan panas dalam mulutku. Adit orgasme di dalam mulutku selama 2 menit. pejuhnya banyak sekali sampai sampai tidak tertampung dan menetes keluar mulutku.
Aku membersihkan setiap tetes pejuh Adit dari penisnya. setelah selesai aku segera berdiri kembali. Adit terkejut melihat apa yang kulakukan selanjutnya. Aku membuka kaosku dan menariknya keatas payudaraku. Setelah itu aku mengeluarkan buah dadaku dari balik cup bh ku tanpa melepas ikatan bh ku.
Adit semakin melotot melihat hal ini. Setelah itu aku aku memasukkan jari tanganku kemulutku dan mencolek pejuhnya dalam mulutku. Aku mengoleskan pejuh itu ke permukaan payudaraku. Aku mengulanginya berkali kali sampai seluruh permukaan payudaraku dilumuri pejuh Adit.
Dia melihat seakan tidak percaya melihat pejuh di mulutku sekarang sudah habis karena sudah kuoleskan ke seluruh permukaan kedua buah dadaku. Payudaraku terlihat mengkilat memantulkan cahaya lampu bolam kamar mandi karena tidak ada bagian yang terlewat baik itu puting maupun aerolaku.
Aku : "Kamu suka?
Aditya : "Iiii iya Bu"
Aku : "Kamu tidak boleh menceritakan semua ini kepada siapapun, mengerti?"
Aditya : "Baik bu"
Aku : "Dan mulai sekarang kamu harus main kesini setiap hari."
Aku : "Dan Ibu akan kasih kamu yang enak seperti tadi"
Setelah itu Adit langsung pamit pulang.
Aku senang dapat penis yang bisa kunikmati setiap hari. semenjak saat itu setiap hari Adit selalu bermain kerumahku dengan alasan untuk mengajak Wahyu anakku bermain. Tapi semua itu hanya alasan untukku agar bisa menikmati penis miliknya setiap hari. Aku selalu melakukan oral pada penisnya. Adit pun juga selalu menumpahkan pejuhnya dalam mulutku.
Hingga suatu hari, setelah pulang dari pasar aku tidur sebentar. Setelah beberapa saat tidur aku merasakan sensasi nikamt pada selangkanganku. Aku pikir hanya mimpi tapi ketika aku membuka mataku aku melihat sosok Adit sedang menindih pahaku. Celananya sudah melorot tidak menutupi penisnya lagi.
Dia sedang menggosokkan penisnya pada bibir vaginaku yang sudah tidak tertutupi cd ku yang sudah melorot ke bawah pahaku. vaginaku pun sudah sangat basah karena sudah sangat terangsang oleh gesekan batang penis Adit.
Aku : "Apa yang kamu lakukan Adit" Aku mendorongnya menjauhiku.
Aku : "Kamu jangan kurang ajar yaa dengan Ibu" bentakku.
"Memangnya kenapa Bu?" ada suara lain dari samping uang mengagetkanku.
Aku terkejut melihat Wahyu anakku sudah masuk ke kamarku.
Aku bingung apa yang sedang terjadi. Aku harus menghentikan kegilaan ini. Kegilaan yang kumulai sendiri kini sudah semakin tidak terkendali dengan terlibatnya anaku di dalamnya.
Wahyu : "Ibu menikmatinya kan?"
Aku : "Jaga mulutmu Wahyu, jangan kurang ajar"
Wahyu : "Buktinya Ibu sampai basah seperti itu karena di gosok gosok penis Adit"
Aku : "Sudah hentikan semua ini"
Aku tidak bisa bangun karena Adit masih menindih tubuh bagian bawahku.
Wahyu : "Menghentikan apa? bukannya Ibu yang memulainya?"
Aku terkejut mendengar jawaban Wahyu.
Wahyu : "Wahyu tahu selama ini setiap Adit main ke rumah"
Wahyu : "Ibu selalu mengocok penis Adit. benar kan?
Wahyu : "Wahyu juga tahu selama ini Ibu kesepian ditinggal bapak ke jakarta"
Wahyu : "Dan menjadikan Adit sebagai pelampiasan."
Wahyu : "Wahyu sudah merekam semua kelakuan Ibu dalam video ini"
Aku terkejut melihat rekaman video oralku pada Adit selama ini bahakan sejak kejadian pertama kali waktu itu.
Aku : "Jangan macam macam Wahyu"
Wahyu : "Tenang saja Bu, Wahyu tidak akan menyebarkannya kemana mana"
Wahyu : "Asal Ibu menuruti syarat dari Wahyu"
Aku : "Baiklah, apa itu"
Aku kini balik terdesak dan diancam oleh anakku sendiri.
Wahyu : "Mulai sekarang Ibu harus mau dientot Adit."
Wahyu : "Setiap Adit minta Ibu harus melayani Adit. mengerti Ibuku sayang?"
JDEEERRR
Aku : "Aku terkejut dan tidak habis pikir" Aku berkata dalam batinku.
Aku : "Bagaimana mungkin Wahyu anakku sendiri membiarkan Ibu kandungnya sendiri disetubuhi."
Aku : "Bukan oleh ayahnya sendiri melainkan oleh anak laki laki seumurannya yang tidak lain adalah"
Aku : "Teman sekolahnya sendiri"
Tiba tiba Aku tersadar.
Aku : "Kamu gila Wahyu. Ibu tidak mau. Ibu tidak sudi" tolak ku tegas
Wahyu : "Kalau begitu video ini akan tersebar"
Wahyu : "Jangan salahkan Wahyu kalau sampai video ini sampai ke tangan bapak"
Aku kembali terdesak dan tidak punya pilihan lain.
Aku : "Baiklah Ibu bersedia melayani Adit"
Seolah di komando. Adit yang sudah tegang dari tadi sekarang mulai mengarahkan penisnya ke lubang vaginaku. Aku bisa merasakan kepala penisnya mulai menerobos masuk ke liang vaginaku. Perlahan tapi tanpa hambatan penis Adit akhirnya terbenam seluruhnya dalam vaginaku yang sudah basah oleh cairan kewanitaanku.
Setelah mendiamkan sebentar Adit mulai menggenjot vaginaku pelan. Aku merasakan kenikamatan yang sudah lama tidak aku dapatkan dari suamiku. Aku tenggelam dalam lautan kenikmatan seiring dengan gelombang tusukan penis dari Adit. Aku sangat menikmatinya hingga aku merasakan sepasang tangan meremas buah dadaku.
Aku : "Jangan Adit"
Adit tidak berhenti dan bahkan hanya tersenyum padaku.
Wahyu : "Ibu sayang . ." Sambil menunjukkan hp nya yang berisi rekaman video oralku pada Adit.
Akhirnya aku hanya pasrah saja dengan tangan Adit meremas remas buah dadaku. Jari jarinya kadang menarik pentilku dari luar. Aku semakin terombang ambing dalam gelombang kenikmatan yang diberikan Adit seiring genjotannya pada vaginaku.
Aditya : "Ahhha ahhhaahhha" erang Adit
Aku : "Uhhhhh Adit ahhhh"
Tanpa kusadari suara lenguhan kami beradu memenuhi kamar tempat kami bercinta.
Bajuku kini sudah tidak beraturan rokku sudah terangkat sampai kepinggang. baju ku dan bh ku sudah terlepas tidak menutupi bagian atas tubuhku. Adit kini menciumi dan menghisap pada kedua pentil buah dadaku layaknya Wahyu ketika masih bayi.
Seiring dengan Adit menyusu padaku genjotannya juga semakin cepat. Dia terlihat suka sekali menyusu pada buah dadaku. Kedua buah dadaku secara bergantian menjadi sasaran kenyotan Adit. Hisapannya sangat kuat aku samapai melayang layang. Aku diserang bertubi tubi oleh anak berusia 11 tahun yang entah darimana mendapat pengetahuan tentang seks.
Aditya : "Cuphhha ahhhha cuup slurphhh"
Suara hisapan Adit pada pentilku seakan ingin mengeluarkan susu dari payudaraku.
Aku : "Ahhh ehggg ahhhhhh " Aku semakin menarik kepala Adit mendekap nya pada dadaku.
Tiba tiba Adit berhenti dan melepaskan kuluman pada pentil payudaraku.
Aditya : "Kok tidak ada susunya Bu?"
Aku : "Ahh yang memang tidak ada. Ibu kan tidak sedang menghasilkan asi"
Aditya : "Kenapa tidak?" Dia terus bertanya padaku."
Aku : "Ya karena Ibu sedang tidak mempunyai bayi."
Aditya : "Jika Ibu punya bayi Ibu baru bisa menghsilkan asi"
Aku tidak paham akan kemana arah pembicaraan ini."
Aditya : "Jadi kalau Ibu hamil. tetek ibu bisa keluar susunya."
Dia mengagguk paham lalu menoleh pada Wahyu yang sepertinya dari tadi merekam kegiatan ku dan Adit.
Aditya : "Wahyu bolehkan aku menghamili Ibu mu"
JDEEEEEEEEEEERR
Bagai tersambar petir di siang hari mendengar hal itu. Belum sempat aku berkata apa apa Wahyu sudah menimpali.
Wahyu : "Tentu saja boleh Dit. silakan ibuku dihamili. Ibu mau kan hamil anaknya Adit?"
Aku : "Sudah gila kamu Wahyu, mana mungkin Ibu hamil sama Adit?" jawabku marah.
Wahyu : "Tidak apa apa Bu, Wahyu malah suka kalau bisa melihat bentuk perut Ibu"
Wahyu : "Yang semakin membesar karena berisi bayinya Adit" jawabnya santai.
Aku : "Sudah gila kalian semua, lepaskan Ibu"
Wahyu : "Yaa kalau Ibu tidak mau,"
Wahyu : "Jangan salahkan Wahyu kalau video video ini tersebar kemana mana."
Wahyu : "Ibu mau?"
Kembali Wahyu menggunakan ancamannya padaku. Aku sudah bingung tidak bisa berbuat apa apa. Aku hanya pasrah menerima semua ini.
Kini Adit semakin heboh menggenjotku. Perasaan bingungku sedikit demi sedikit mulai hilang tergantikan oleh sensasi erotis sedang dientot oleh teman anakku sendiri di depan dan atas persetujuan anakku.
Aku : "Aku lebih bergairah membayangkan bagaimana nanti jika aku sampai hamil oleh Adit." pikirku
Aku : "Anak laki laki yang lebih pantas memanggilku ibu itu kini akan menumpahkan bibitnya dalam rahimku yang subur. pikirku
Aku : "Bibitnya yang tengah matang siap membuahi sel telur dalam rahimku" pikirku
Aku : "Yang nantinya kan tumbuh didalam perutku." pikirku
Kini aku yang dari tadi pasif menikmati perlakuan Adit sekarang mulai ikut menggoyangkan tubuh. Aku menggerakkan pantatku maju mundur seirama dengan sodokan penis Adit pada liang vaginaku.
Aditya : "Ahhhh ahhhh Ibu enak sekali" kata Adit
Aku : "Terus Dit genjot yang dalam"
Aditya : "Ihhhyaaa Bu ahhhha ahhhh"
Aku : "Ayo Dit genjot yang lebih dalam buahi rahim Ibu. hamili Ibu."
Aku : "Ahhhhhh. buat Ibu temanmu ini hamil anakmu."
Aku : "Kamu suka kan kalau Ibu hamil?"
Akupun sudah tidak peduli lagi dengan kata kataku.
Rasa takut dalam tubuhku kini sepenuhnya telah berganti oleh sensasi kebinalan ku. Aku kini telah berselingkuh di depan anakku sendiri. Bahkan anakku mengijinkan rahim Ibu nya tempat dulu dia pernah tinggal selama 9 bulan diisi kembali oleh calon bayi dari temannya sendiri.
Aditya : "Ahhh Adit mau sampai Bu ahhhh ahhh"
Aku : "Kita sampai bareng ayo Adit. tumpahkan semua bibitmu dalam rahim Ibu ahhhhh"
Tubuh kami berdua menegang.
Kami seperti merasa setrum mengalir ke seluruh tubuh kami. Sperma Adit yang sangat kental memenuhu seluruh liang vagina hingga masuk kedalam rahimku. bibit bibit sperma Adit kini sedang geradu cepat untuk membuahi sel telurku yang sedang subur.
Kami terus berpelukan dan dalam kondisi seperti itu selama beberapa menit. Sampai penis Adit mengecil dan keluar dari vaginaku. Dia berbaring lemas disampingku. Aku hanya bisa terdiam melihat lelehan sperma yang tidak tertampung keluar dari vaginaku. Aku sangat menikamti nya dan tidak peduli akan resiko yang akan terjadi.
Semenjak saat itu Adit rutin bermain ke rumahku. Tentu saja itu hanya kedok untuk bisa menyetubuhiku dan menabung pejuh dalam rahimku. Akupun aman melakukan persundalan ini tanpa takut diketahui orang lain.
Adit yang masih anak anak bebas bermain ke rumahku, rumah temannya sendiri. tidak akan ada yang mencium hubungan gelap kami. orang orang tidak akan menyangka Adit yang masih kecil setiap hari menyetubuhi aku. Tapi aku juga harus waspada sehingga setiap Adit kerumah selalu ada Wahyu pula, sehingga akan menjauhkan kesan mencurigakan pada kedatangannya di rumahku.
Bahkan Wahyu suka sekali melihat Ibunya disetubuhi oleh temannya sendiri. Dia selalu berfantasi melihat perut Ibunya membesar karena perbuatan Adit. tapi Wahyu juga bukannya tidak pernah menggarapku, bedanya dia hanya melakukan oral, titjob, maupun handjob dan menumpahkan spermanya ke luar tubuhku terutama mulut, wajah dan buah dadaku.
Dia tidak pernah melakukan penetrasi padaku. Dia membiarkan Adit menjadi pemilik tunggal rahim Ibunya. setidaknya sampai nanti Adit berhasil menghamili aku.
Aku dan Adit melakukan persetubuhan dimana saja dan kapan saja. saat sedang menonton tv, mandi bersama, memasak bahkan menjemur di halaman belakang rumah tidak dialewatkan untuk menggenjotku. Sensasi berhubungan seks semakin membuatku kehilangan akal sehat. Sudah tidak terhitung berapa kali dia menumpahkan pejuhnya dalam rahimku. Itu semua dilakukan dengan bebas karena tidak adanya suamiku dirumah.
Meskipun begitu pernah saat suamiku pulang untuk melepas rindu pada keluarganya dan mengirimkan hasil keringatnya, Adit masih nekat menyetubuhiku. siang itu setelah melayani suamiku dan membuatnya keluar di dalam vaginaku, Aku melayani Adit tepat disamping suamiku yang sedang tidur kelelahan. Sensasi nikmat ditambah perasaan berdebar jika sewaktu waktu suamiku bangun dan memergoki kami dalam posisi seperti itu.
Bahkan Wahyu ikut ikutan menyodok mulutku sambil merekam kegiatan kami dengan kamera hapenya. kami bertiga keluar bersamaan, Adit di vaginaku dan Wahyu di dalam mulutku. Aku dengan mulut penuh sperma anakku sendiri nekat mencium kening suamiku sehingga lelehan sperma Wahyu sedikit menempel di kening suamiku. Sungguh binal.
Suamiku dirumah hanya dua hari. Setelah dia berangkat kembali ke jakarta kehidupan seksku kembali memanas. bersama Wahyu dan temannya Adit. beberapa minggu kemudian aku sudah telat datang bulan aku mencoba tes kehamilan dan hasilnya positif. Belum yakin aku pergi ke Bu bidan Dwi untuk memastikan kehmilanku. Setelah menjalani pemerikasaan, hasilnya keluar dan aku benar positif hamil.
Selanjutnya dari percakapanku dengan Bu bidan Dwi baru kuketahui ternyata beliau ini adalah ibu dari Adit. Anak laki yang berhasil menanamkan bibitnya pada rahimku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika mengetahui bahwa calon bayi yang ada dalam perutku ini adalah anak dari putranya sendiri dan dalam kata lain cucunya sendiri.
Aku : "Ah itu urusan nanti. sekarang aku harus memberi tahu Adit" pikirku.
Aku : "Ayah asli dari anak dalam perutku ini, dia Pasti senang sekali dengan kehamilanku" pikirku.
Aku : "Begitu juga dengan Wahyu, dia tidak sabar mendapat adik baru" pikirku.
Aku : "Aku juga tidak lupa meberitahu suamiku di jakarta." pikirku.
Suami : "Yang benar Dik kamu hamil?" Dia terdengar senang sekali.
Aku : "Iya Mas,"
Aku : "Ini karena kamu keluar di dalam saat sedang pulang kerumah beberapa minggu yang lalu"
Aku dengan lancar berbohong pada suamiku. Suamiku yang tidak tahu jadwal reproduksiku pun dengan mudah kubohongi. Apalagi siang itu setelah aku melayani suamiku aku langsung membersihkan sperma encernya yang jumlahnya tidak seberapa dari vaginaku. Sebelum akhirnya aku melayani Adit tepat disamping suamiku yang sedang tertidur pulas.
Wahyu : "Sekarang giliranku" tampak Wahyu bicara serius pada Adit.
Aditya : "Oke, tinggal atur rencana" jawabnya.
Setelah itu Adit memberitahuku alasan dibalik semua ini. Dan menjelaskan merencanakan sesuatu besar yang dia siapkan untuk Ibunya sendiri.
Ya benar, Bu Bidan Dwi akan menjadi target selanjutnya dari rencana anak anak kami yang ternyata sudah sejak lama menyimpan fantasi untuk melihat Ibu kandung mereka dihamili oleh orang lain yang bukan ayah mereka.
Aku : "Aku sedikit terkejut darimana mereka mendapat ide fantasi itu," pikirku.
Aku : "Tapi aku sudah tidak peduli" pikirku.
Aku : "Karena kini saatnya Bu bidan Dwi akan merasakan hal yang sama yang terjadi pada diriku."
(Bersambung...)
Sumber :
Semprot by haryhidayat9
" . . ." tidak ada jawaban. Adit hanya tertunduk.
Aku : "Jawab Ibu atau Ibu laporkan semua ini"
Aditya : "I iyya bu sudah sering" jawab Adit.
Aditya : "Adit sudah sering ngocok pakai bh Ibu dan menumpahkan pejuhnya di bh Ibu"
Aku terkejut mendengar pengakuan Adit. Ternyata dia sudah sering melakukan hal ini saat sedang bermain di rumahku. pantas saja aku selalu menemukan noda putih pada cup bh ku saat akan mencuci pakaian dalam ku.
Aditya : "Tolong Bu tolong jangan dilaporkan"
Mendengar ketakutan Adit aku justru mendapat ide.
Aku : "Baiklah tidak akan Ibu laporkan. tapi ada syaratnya?"
Aditya : "Baiklah Bu. apapun syaratnya"
Aku : "Sekarang buka celana kamu"
Aditya : "Tapi Bu . . " Adit telihat terkejut
Aku : "Ayo cepat atau akan Ibu laporkan" potongku segera.
Adit segera memelorotkan celananya sampai ke lututnya. penisnya masih sangat tegang berwarna coklat kemerah merahan. pembuluh darah di penisnya menonjol dikeliling batang penisnya.
Aku segera berjongkok di depan Adit. Posisi kepalaku tepat di depan batang penis Adit. Kuraih penis itu dengan tangan kananku. Aku mulai mengocok lembut penis Adit. dia hanya bisa terpejam menikamti kocokan tanganku pada batang penisnya.
Aditya : "Ahha hah ahh ahh" erang Adit.
Aku : "Enak dit kocokan Ibu?" tanyaku.
Aditya : "Ehnnak bhuk ahhha ahhh" suaranya bergetar akibat kocokanku.
Aku : "Lebih enak mana dari ngocok sendiri?"
Aditya : "Eee ee enak dikocokin Ibu" dia menjawab pertanyaanku dengan malu malu
Aku : "Sekarang Ibu bikin lebih enak"
Aku segera mendekatkan kepalaku ke batang penis Adit. kujulurkan lidahku dan menjilati setiap permukaan penis Adit. tidak kelewatan kepala penis dan buah zakarnya yang sedang matang matangnya. kadang aku menghisapi kepala penis dan buah zakarnya dengan lembut.
Dia semakin keenakan samapai sampai tidak kuat berdiri tegak dan menyandarkan tangannya pada dinding bak mandi. puas menjilati kini aku mulai memasukkan batang penisnya kedalam mulutku. Senti demi senti batang itu masuk sampai tertelan sepenuhnya dalam mulutku.
Aditya : "Ahhh aduhhhh ehnaak Bu"
Aku mulai melakukan blowjob.
Aku memaju mundurkan kepalaku sambil menghisapi penisnya. gerakan penis dalam mulutku seperti piston dalam mesin yang semakin lama bergerak semakin cepat. tangan Adit kini sudah memegangi kepalaku. Sepertinya dia sudah tidak malu malu lagi. Tangannya mencengkeram rambutku dan memaju mundurkan kepalaku. hisapan ku semakin lama semakin kuperkuat. Gerakan blowjob ku semakin tidak beraturan. kami melakukannya hampir selam 10 menit hingga akhirnya.
Aditya : "Ahhhditt kehluar Bukkkk"
Tangan Adit menarik kepalaku mendekati selangkangannya. penisnya semakin terdorong samapi ke tenggorokan ku. bersamaan dengan itu tubuh Adit menegang dan aku merasakan pancaran cairan kental dan panas dalam mulutku. Adit orgasme di dalam mulutku selama 2 menit. pejuhnya banyak sekali sampai sampai tidak tertampung dan menetes keluar mulutku.
Aku membersihkan setiap tetes pejuh Adit dari penisnya. setelah selesai aku segera berdiri kembali. Adit terkejut melihat apa yang kulakukan selanjutnya. Aku membuka kaosku dan menariknya keatas payudaraku. Setelah itu aku mengeluarkan buah dadaku dari balik cup bh ku tanpa melepas ikatan bh ku.
Adit semakin melotot melihat hal ini. Setelah itu aku aku memasukkan jari tanganku kemulutku dan mencolek pejuhnya dalam mulutku. Aku mengoleskan pejuh itu ke permukaan payudaraku. Aku mengulanginya berkali kali sampai seluruh permukaan payudaraku dilumuri pejuh Adit.
Dia melihat seakan tidak percaya melihat pejuh di mulutku sekarang sudah habis karena sudah kuoleskan ke seluruh permukaan kedua buah dadaku. Payudaraku terlihat mengkilat memantulkan cahaya lampu bolam kamar mandi karena tidak ada bagian yang terlewat baik itu puting maupun aerolaku.
Aku : "Kamu suka?
Aditya : "Iiii iya Bu"
Aku : "Kamu tidak boleh menceritakan semua ini kepada siapapun, mengerti?"
Aditya : "Baik bu"
Aku : "Dan mulai sekarang kamu harus main kesini setiap hari."
Aku : "Dan Ibu akan kasih kamu yang enak seperti tadi"
Setelah itu Adit langsung pamit pulang.
Aku senang dapat penis yang bisa kunikmati setiap hari. semenjak saat itu setiap hari Adit selalu bermain kerumahku dengan alasan untuk mengajak Wahyu anakku bermain. Tapi semua itu hanya alasan untukku agar bisa menikmati penis miliknya setiap hari. Aku selalu melakukan oral pada penisnya. Adit pun juga selalu menumpahkan pejuhnya dalam mulutku.
Hingga suatu hari, setelah pulang dari pasar aku tidur sebentar. Setelah beberapa saat tidur aku merasakan sensasi nikamt pada selangkanganku. Aku pikir hanya mimpi tapi ketika aku membuka mataku aku melihat sosok Adit sedang menindih pahaku. Celananya sudah melorot tidak menutupi penisnya lagi.
Dia sedang menggosokkan penisnya pada bibir vaginaku yang sudah tidak tertutupi cd ku yang sudah melorot ke bawah pahaku. vaginaku pun sudah sangat basah karena sudah sangat terangsang oleh gesekan batang penis Adit.
Aku : "Apa yang kamu lakukan Adit" Aku mendorongnya menjauhiku.
Aku : "Kamu jangan kurang ajar yaa dengan Ibu" bentakku.
"Memangnya kenapa Bu?" ada suara lain dari samping uang mengagetkanku.
Aku terkejut melihat Wahyu anakku sudah masuk ke kamarku.
Aku bingung apa yang sedang terjadi. Aku harus menghentikan kegilaan ini. Kegilaan yang kumulai sendiri kini sudah semakin tidak terkendali dengan terlibatnya anaku di dalamnya.
Wahyu : "Ibu menikmatinya kan?"
Aku : "Jaga mulutmu Wahyu, jangan kurang ajar"
Wahyu : "Buktinya Ibu sampai basah seperti itu karena di gosok gosok penis Adit"
Aku : "Sudah hentikan semua ini"
Aku tidak bisa bangun karena Adit masih menindih tubuh bagian bawahku.
Wahyu : "Menghentikan apa? bukannya Ibu yang memulainya?"
Aku terkejut mendengar jawaban Wahyu.
Wahyu : "Wahyu tahu selama ini setiap Adit main ke rumah"
Wahyu : "Ibu selalu mengocok penis Adit. benar kan?
Wahyu : "Wahyu juga tahu selama ini Ibu kesepian ditinggal bapak ke jakarta"
Wahyu : "Dan menjadikan Adit sebagai pelampiasan."
Wahyu : "Wahyu sudah merekam semua kelakuan Ibu dalam video ini"
Aku terkejut melihat rekaman video oralku pada Adit selama ini bahakan sejak kejadian pertama kali waktu itu.
Aku : "Jangan macam macam Wahyu"
Wahyu : "Tenang saja Bu, Wahyu tidak akan menyebarkannya kemana mana"
Wahyu : "Asal Ibu menuruti syarat dari Wahyu"
Aku : "Baiklah, apa itu"
Aku kini balik terdesak dan diancam oleh anakku sendiri.
Wahyu : "Mulai sekarang Ibu harus mau dientot Adit."
Wahyu : "Setiap Adit minta Ibu harus melayani Adit. mengerti Ibuku sayang?"
JDEEERRR
Aku : "Aku terkejut dan tidak habis pikir" Aku berkata dalam batinku.
Aku : "Bagaimana mungkin Wahyu anakku sendiri membiarkan Ibu kandungnya sendiri disetubuhi."
Aku : "Bukan oleh ayahnya sendiri melainkan oleh anak laki laki seumurannya yang tidak lain adalah"
Aku : "Teman sekolahnya sendiri"
Tiba tiba Aku tersadar.
Aku : "Kamu gila Wahyu. Ibu tidak mau. Ibu tidak sudi" tolak ku tegas
Wahyu : "Kalau begitu video ini akan tersebar"
Wahyu : "Jangan salahkan Wahyu kalau sampai video ini sampai ke tangan bapak"
Aku kembali terdesak dan tidak punya pilihan lain.
Aku : "Baiklah Ibu bersedia melayani Adit"
Seolah di komando. Adit yang sudah tegang dari tadi sekarang mulai mengarahkan penisnya ke lubang vaginaku. Aku bisa merasakan kepala penisnya mulai menerobos masuk ke liang vaginaku. Perlahan tapi tanpa hambatan penis Adit akhirnya terbenam seluruhnya dalam vaginaku yang sudah basah oleh cairan kewanitaanku.
Setelah mendiamkan sebentar Adit mulai menggenjot vaginaku pelan. Aku merasakan kenikamatan yang sudah lama tidak aku dapatkan dari suamiku. Aku tenggelam dalam lautan kenikmatan seiring dengan gelombang tusukan penis dari Adit. Aku sangat menikmatinya hingga aku merasakan sepasang tangan meremas buah dadaku.
Aku : "Jangan Adit"
Adit tidak berhenti dan bahkan hanya tersenyum padaku.
Wahyu : "Ibu sayang . ." Sambil menunjukkan hp nya yang berisi rekaman video oralku pada Adit.
Akhirnya aku hanya pasrah saja dengan tangan Adit meremas remas buah dadaku. Jari jarinya kadang menarik pentilku dari luar. Aku semakin terombang ambing dalam gelombang kenikmatan yang diberikan Adit seiring genjotannya pada vaginaku.
Aditya : "Ahhha ahhhaahhha" erang Adit
Aku : "Uhhhhh Adit ahhhh"
Tanpa kusadari suara lenguhan kami beradu memenuhi kamar tempat kami bercinta.
Bajuku kini sudah tidak beraturan rokku sudah terangkat sampai kepinggang. baju ku dan bh ku sudah terlepas tidak menutupi bagian atas tubuhku. Adit kini menciumi dan menghisap pada kedua pentil buah dadaku layaknya Wahyu ketika masih bayi.
Seiring dengan Adit menyusu padaku genjotannya juga semakin cepat. Dia terlihat suka sekali menyusu pada buah dadaku. Kedua buah dadaku secara bergantian menjadi sasaran kenyotan Adit. Hisapannya sangat kuat aku samapai melayang layang. Aku diserang bertubi tubi oleh anak berusia 11 tahun yang entah darimana mendapat pengetahuan tentang seks.
Aditya : "Cuphhha ahhhha cuup slurphhh"
Suara hisapan Adit pada pentilku seakan ingin mengeluarkan susu dari payudaraku.
Aku : "Ahhh ehggg ahhhhhh " Aku semakin menarik kepala Adit mendekap nya pada dadaku.
Tiba tiba Adit berhenti dan melepaskan kuluman pada pentil payudaraku.
Aditya : "Kok tidak ada susunya Bu?"
Aku : "Ahh yang memang tidak ada. Ibu kan tidak sedang menghasilkan asi"
Aditya : "Kenapa tidak?" Dia terus bertanya padaku."
Aku : "Ya karena Ibu sedang tidak mempunyai bayi."
Aditya : "Jika Ibu punya bayi Ibu baru bisa menghsilkan asi"
Aku tidak paham akan kemana arah pembicaraan ini."
Aditya : "Jadi kalau Ibu hamil. tetek ibu bisa keluar susunya."
Dia mengagguk paham lalu menoleh pada Wahyu yang sepertinya dari tadi merekam kegiatan ku dan Adit.
Aditya : "Wahyu bolehkan aku menghamili Ibu mu"
JDEEEEEEEEEEERR
Bagai tersambar petir di siang hari mendengar hal itu. Belum sempat aku berkata apa apa Wahyu sudah menimpali.
Wahyu : "Tentu saja boleh Dit. silakan ibuku dihamili. Ibu mau kan hamil anaknya Adit?"
Aku : "Sudah gila kamu Wahyu, mana mungkin Ibu hamil sama Adit?" jawabku marah.
Wahyu : "Tidak apa apa Bu, Wahyu malah suka kalau bisa melihat bentuk perut Ibu"
Wahyu : "Yang semakin membesar karena berisi bayinya Adit" jawabnya santai.
Aku : "Sudah gila kalian semua, lepaskan Ibu"
Wahyu : "Yaa kalau Ibu tidak mau,"
Wahyu : "Jangan salahkan Wahyu kalau video video ini tersebar kemana mana."
Wahyu : "Ibu mau?"
Kembali Wahyu menggunakan ancamannya padaku. Aku sudah bingung tidak bisa berbuat apa apa. Aku hanya pasrah menerima semua ini.
Kini Adit semakin heboh menggenjotku. Perasaan bingungku sedikit demi sedikit mulai hilang tergantikan oleh sensasi erotis sedang dientot oleh teman anakku sendiri di depan dan atas persetujuan anakku.
Aku : "Aku lebih bergairah membayangkan bagaimana nanti jika aku sampai hamil oleh Adit." pikirku
Aku : "Anak laki laki yang lebih pantas memanggilku ibu itu kini akan menumpahkan bibitnya dalam rahimku yang subur. pikirku
Aku : "Bibitnya yang tengah matang siap membuahi sel telur dalam rahimku" pikirku
Aku : "Yang nantinya kan tumbuh didalam perutku." pikirku
Kini aku yang dari tadi pasif menikmati perlakuan Adit sekarang mulai ikut menggoyangkan tubuh. Aku menggerakkan pantatku maju mundur seirama dengan sodokan penis Adit pada liang vaginaku.
Aditya : "Ahhhh ahhhh Ibu enak sekali" kata Adit
Aku : "Terus Dit genjot yang dalam"
Aditya : "Ihhhyaaa Bu ahhhha ahhhh"
Aku : "Ayo Dit genjot yang lebih dalam buahi rahim Ibu. hamili Ibu."
Aku : "Ahhhhhh. buat Ibu temanmu ini hamil anakmu."
Aku : "Kamu suka kan kalau Ibu hamil?"
Akupun sudah tidak peduli lagi dengan kata kataku.
Rasa takut dalam tubuhku kini sepenuhnya telah berganti oleh sensasi kebinalan ku. Aku kini telah berselingkuh di depan anakku sendiri. Bahkan anakku mengijinkan rahim Ibu nya tempat dulu dia pernah tinggal selama 9 bulan diisi kembali oleh calon bayi dari temannya sendiri.
Aditya : "Ahhh Adit mau sampai Bu ahhhh ahhh"
Aku : "Kita sampai bareng ayo Adit. tumpahkan semua bibitmu dalam rahim Ibu ahhhhh"
Tubuh kami berdua menegang.
Kami seperti merasa setrum mengalir ke seluruh tubuh kami. Sperma Adit yang sangat kental memenuhu seluruh liang vagina hingga masuk kedalam rahimku. bibit bibit sperma Adit kini sedang geradu cepat untuk membuahi sel telurku yang sedang subur.
Kami terus berpelukan dan dalam kondisi seperti itu selama beberapa menit. Sampai penis Adit mengecil dan keluar dari vaginaku. Dia berbaring lemas disampingku. Aku hanya bisa terdiam melihat lelehan sperma yang tidak tertampung keluar dari vaginaku. Aku sangat menikamti nya dan tidak peduli akan resiko yang akan terjadi.
Semenjak saat itu Adit rutin bermain ke rumahku. Tentu saja itu hanya kedok untuk bisa menyetubuhiku dan menabung pejuh dalam rahimku. Akupun aman melakukan persundalan ini tanpa takut diketahui orang lain.
Adit yang masih anak anak bebas bermain ke rumahku, rumah temannya sendiri. tidak akan ada yang mencium hubungan gelap kami. orang orang tidak akan menyangka Adit yang masih kecil setiap hari menyetubuhi aku. Tapi aku juga harus waspada sehingga setiap Adit kerumah selalu ada Wahyu pula, sehingga akan menjauhkan kesan mencurigakan pada kedatangannya di rumahku.
Bahkan Wahyu suka sekali melihat Ibunya disetubuhi oleh temannya sendiri. Dia selalu berfantasi melihat perut Ibunya membesar karena perbuatan Adit. tapi Wahyu juga bukannya tidak pernah menggarapku, bedanya dia hanya melakukan oral, titjob, maupun handjob dan menumpahkan spermanya ke luar tubuhku terutama mulut, wajah dan buah dadaku.
Dia tidak pernah melakukan penetrasi padaku. Dia membiarkan Adit menjadi pemilik tunggal rahim Ibunya. setidaknya sampai nanti Adit berhasil menghamili aku.
Aku dan Adit melakukan persetubuhan dimana saja dan kapan saja. saat sedang menonton tv, mandi bersama, memasak bahkan menjemur di halaman belakang rumah tidak dialewatkan untuk menggenjotku. Sensasi berhubungan seks semakin membuatku kehilangan akal sehat. Sudah tidak terhitung berapa kali dia menumpahkan pejuhnya dalam rahimku. Itu semua dilakukan dengan bebas karena tidak adanya suamiku dirumah.
Meskipun begitu pernah saat suamiku pulang untuk melepas rindu pada keluarganya dan mengirimkan hasil keringatnya, Adit masih nekat menyetubuhiku. siang itu setelah melayani suamiku dan membuatnya keluar di dalam vaginaku, Aku melayani Adit tepat disamping suamiku yang sedang tidur kelelahan. Sensasi nikmat ditambah perasaan berdebar jika sewaktu waktu suamiku bangun dan memergoki kami dalam posisi seperti itu.
Bahkan Wahyu ikut ikutan menyodok mulutku sambil merekam kegiatan kami dengan kamera hapenya. kami bertiga keluar bersamaan, Adit di vaginaku dan Wahyu di dalam mulutku. Aku dengan mulut penuh sperma anakku sendiri nekat mencium kening suamiku sehingga lelehan sperma Wahyu sedikit menempel di kening suamiku. Sungguh binal.
Suamiku dirumah hanya dua hari. Setelah dia berangkat kembali ke jakarta kehidupan seksku kembali memanas. bersama Wahyu dan temannya Adit. beberapa minggu kemudian aku sudah telat datang bulan aku mencoba tes kehamilan dan hasilnya positif. Belum yakin aku pergi ke Bu bidan Dwi untuk memastikan kehmilanku. Setelah menjalani pemerikasaan, hasilnya keluar dan aku benar positif hamil.
Selanjutnya dari percakapanku dengan Bu bidan Dwi baru kuketahui ternyata beliau ini adalah ibu dari Adit. Anak laki yang berhasil menanamkan bibitnya pada rahimku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya jika mengetahui bahwa calon bayi yang ada dalam perutku ini adalah anak dari putranya sendiri dan dalam kata lain cucunya sendiri.
Aku : "Ah itu urusan nanti. sekarang aku harus memberi tahu Adit" pikirku.
Aku : "Ayah asli dari anak dalam perutku ini, dia Pasti senang sekali dengan kehamilanku" pikirku.
Aku : "Begitu juga dengan Wahyu, dia tidak sabar mendapat adik baru" pikirku.
Aku : "Aku juga tidak lupa meberitahu suamiku di jakarta." pikirku.
Suami : "Yang benar Dik kamu hamil?" Dia terdengar senang sekali.
Aku : "Iya Mas,"
Aku : "Ini karena kamu keluar di dalam saat sedang pulang kerumah beberapa minggu yang lalu"
Aku dengan lancar berbohong pada suamiku. Suamiku yang tidak tahu jadwal reproduksiku pun dengan mudah kubohongi. Apalagi siang itu setelah aku melayani suamiku aku langsung membersihkan sperma encernya yang jumlahnya tidak seberapa dari vaginaku. Sebelum akhirnya aku melayani Adit tepat disamping suamiku yang sedang tertidur pulas.
Wahyu : "Sekarang giliranku" tampak Wahyu bicara serius pada Adit.
Aditya : "Oke, tinggal atur rencana" jawabnya.
Setelah itu Adit memberitahuku alasan dibalik semua ini. Dan menjelaskan merencanakan sesuatu besar yang dia siapkan untuk Ibunya sendiri.
Ya benar, Bu Bidan Dwi akan menjadi target selanjutnya dari rencana anak anak kami yang ternyata sudah sejak lama menyimpan fantasi untuk melihat Ibu kandung mereka dihamili oleh orang lain yang bukan ayah mereka.
Aku : "Aku sedikit terkejut darimana mereka mendapat ide fantasi itu," pikirku.
Aku : "Tapi aku sudah tidak peduli" pikirku.
Aku : "Karena kini saatnya Bu bidan Dwi akan merasakan hal yang sama yang terjadi pada diriku."
(Bersambung...)
Semprot by haryhidayat9

0 komentar:
Posting Komentar